Sabtu, 28 Maret 2020

Psikologi dan Teknologi Internet : Identitas dan Presentasi diri


PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INTERNET



Disusun Oleh :
Devita Septiyani Zahra 11518806
Shafira Permatasari 16518633
Yeni Yunita Sari 17518420

Kelas :
2PA21


UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2020

Cara untuk melakukan manajemen identitas dalam dunia maya

Identitas dan Presentasi Diri
Identitas didefinisikan sebagai imaji budaya, sosial, relasional, dan individual atas konsep diri. Identitas memiliki implikasi keanggotaan grup, antar pribadi, dan individual. Identitas merupakan kaleidoskop berwarna yang memiliki karakter dinamis dan stabil. Identitas sosial termasuk identitas keanggotaan etnis atau budaya tertentu, identias gender, identitas orientasi seksual, identitas kelas sosial, identitas peran sosial, dan sebagainya. Identitas personal termasuk atribut unik yang kita asosiasikan dengan diri kita dibandingkan dengan orang lain. Baik identitas sosial maupun personal punya pengaruh dalam perilaku kita sehari-hari.
Identitas internet, juga  identitas online atau persona internet, adalah sosial yang dibuat pengguna Internet dalam komunitas dan situs web online. Ini juga dapat dianggap sebagai presentasi diri yang dibangun secara aktif. Meskipun beberapa orang memilih untuk menggunakan nama asli mereka secara online, beberapa pengguna internet lebih suka menjadi anonim, mengidentifikasi diri mereka dengan nama samaran, yang mengungkapkan jumlah informasi pribadi yang dapat diidentifikasi  Identitas online bahkan dapat ditentukan oleh hubungan pengguna dengan grup sosial tertentu yang mereka adalah bagian dari online. Beberapa bahkan dapat menipu tentang identitas mereka.
Presentasi diri dikenal juga dengan Manajemen Kesan/impression manajement (Kenrick et al., 2002:116) merupakan bangunan yang merepresentasikan penampilan dan pemeliharaan identitas sosial selama interaksi. Manajemen kesan merujuk pada gambaran yang ditampilkan seseorang selama berinteraksi. Beberapa peneliti menggunakan konsep diri public (public self) atau diri sosial (social self) untuk membedakan identitas sosial dari kehidupan pribadi. Sebagai individu, kita diatur oleh berbagai keistimewaan yang banyak, seperti kebiasaan, perilaku yang sopan, keyakinan, sikap, nilai, kemampuan, kebutuhan, ketertarikan, sejarah keluarga, dan sebagainya. Ketika berinteraksi dengan pihak lain, kita tidak dapat menampilkan seluruh aspek dalam kehidupan pribadi kita. Karenanya kita akan memilih karakter-kararkter dari matriks perilaku dan psikologis kita yang kita yakini akan mempresentasikan diri yang harus kita jalani dalam kondisi tersebut. Jika seseorang membangun diri publiknya terdesak norma-norma interaksi, maka komunikasi koheren tidak akan terjadi. Orang akan cenderung mengatakan apapun yang mereka pikirkan, keluar dan masuk dalam percakapan sesuka hati, dan merespon (atau tidak) secara acak atas komentar orang lain. Tanpa mengenali dan mengikuti norma terkait etika komunikasi yang layak, konstruksi makna secara bersama tidak dapat terjadi. (Littlejohn & Foss, 2009:506-507)
Perilaku dan atribut-atribut yang diasosiasikan dirangkum dalam lima jenis atribusi, strategi karakteristik yang harus didapatkan tiap atribusi, dan berbagai taktik untuk menerapkan strategi, yaitu:
 (1) seseorang yang ingin dianggap sebagai orang yang mudah disukai atau ramah akan menggunakan strategi menjilat (ingratiation) dan menggunakan taktik menampilkan emosi yang positif selama berinteraksi, melakukan hal-hal yang disukai orang, member pujian, dan menggunakan humor yang mencela diri sendiri.
 (2) seseorang yang ingin dianggap kompeten akan menggunakan strategi promosi diri (self promotion) dan taktik memberi tahu orang lain tentang prestasinya, perilaku baiknya, atau pencapainnya dengan menampilkan plakat atau penghargaan agar dilihat orang.
(3) seseorang yang ingin dianggap berharga akan menggunakan strategi pemberian contoh (exemplification) dan taktik mendemonstrasikan secara halus kemampuannya, kompetensinya, integritasnya, atau nilai lain dibanding menyatakan secara langsung pada orang lain.
 (4) seseorang yang ingin dianggap tidak tertolong akan menggunakan strategi permohonan (supplication) atau membuat dirinya seolah kurang beruntung (self-handicapping). Strategi ini menggunakan taktik tampil lemah atau sedih untuk menimbulkan perilaku mengasuh atau menjaga dari orang lain. Selain itu juga menggunakan taktik memperlihatkan ketidaktahuan atau pengalaman yang minim untuk menghindari tanggung jawab tugas.
 (5) seseorang yang ingin dianggap berkuasa atau terkendali akan menggunakan strategi intimidasi dan taktik yang digunakan adalah menampilkan kemarahan atau keinginan untuk menghukum atau mencelakai pihak lain. (Littlejohn & Foss, 2009: 506-507)
Media sosial secara utama adalah berinteraksi dengan orang lain dengan harapan mendapatkan balasan. Karaduman memodifikasi kategori media sosial yang dibuat oleh Kaplan dan Haenlein sebagai berikut: (Karaduman, 2013).
Media sosial yang hingga dewasa ini paling banyak digunakan di Indonesia adalah Facebook, Instagram, dan Twitter. Facebook menempati urutan pertama paling banyak digunakan kaum muda Indonesia sebanyak 87,5%, kemudian Instagram 69,2%, dan Twitter 41,3%. Sedangkan pengunggah foto paling banyak di kalangan muda lebih menggunakan media sosial Instagram. Persentase yang diukur dari responden berusia 20 sampai dengan 25 tahun lebih dan responden yang berusia 30 sampai dengan 35 tahun, yang mengakses Instagram ada sebanyak 55,8 %.
Media sosial menjadi sarana kontruksi identitas oleh penggunanya. Melalui media sosial, orang akan menemukan kemudahan untuk membuat identitas seperti yang ia harapkan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa informan hanya ingin menunjukkan sebagian sisi dari dirinya yang ingin ditampilkan melalui media sosial. Sebagian sisi tersebut adalah sisi yang dipandang positif oleh informan dan layak muncul ke media sosial mereka. Informan tidak bernegosiasi dengan lingkungan untuk apa yang mereka anggap sebagai layak muncul di media sosial. Sehingga yang mereka unggah ke media sosial tidaklah selalu konsisten dengan konsensus di masyarakat kita. Meskipun demikian, informan menilai bahwa identitas mereka di media sosial dan di dunia nyata cenderung konsisten. Meskipun mereka cenderung mengambil bagian positif dari identitas di dunia nyata untuk ditampilkan secara berulang dan membentuk citra yang relatif konsisten di media sosial. Citra konsisten tersebutlah yang menjadi identitas media sosial penggunanya. Pada konteks inilah media sosial menjadi medium konstruksi identitas oleh penggunanya sendiri. Pengguna media sosial bebas dan mandiri dalam mendefinisikan dirinya melalui status-status, foto, maupun tautan informasi yang mereka unggah di media sosial mereka.
Burn (1993: 234), menjelaskan bahwa ada tiga sumber universal yang membentuk konsep diri dan identitas pada setiap individu sekaligus menjadi sumber permasalahan dalam kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa:
a) Kesadaran tubuh dan citra tubuh, yang pada mulanya dilengkapi melalui persepsi inderawi, adalah inti mendasar di mana acuan diri dan identitas dibentuk.
 b) Bahasa, timbul untuk membantu proses diferensiasi yang berlangsung lambat dari diri orang-orang lainnya begitu pula untuk memudahkan pemahaman atas banyak umpan balik.
c) Orang-orang lain yang dihormati di mana kelompok teman sebaya tampaknya lebih penting jika dibandingkan dengan orang tua, setelah dilaluinya masa kanak-kanak.

Kesimpulan :
Identitas didefinisikan sebagai imaji budaya, sosial, relasional, dan individual atas konsep diri. Identitas merupakan kaleidoskop berwarna yang memiliki karakter dinamis dan stabil. Identitas sosial, Identitas personal maupun identitas internet punya pengaruh dalam perilaku kita sehari-hari. Presentasi diri dikenal juga dengan Manajemen Kesan/impression manajement (Kenrick et al., 2002:116). Beberapa peneliti menggunakan konsep diri public (public self) atau diri sosial (social self) untuk membedakan identitas sosial dari kehidupan pribadi. Terdapat lima jenis atribusi untuk berinteraksi kepada orang lain. Biasanya di media sosial orang menggunakan identitas untuk berinteraksi dengan orang lain dengan harapan mendapatkan balasan timbal balik.

DAFTAR PUSTAKA :
-Marcocapelle. Wikipedia org wiki Online identity.
-Repository.Umy.ac.id.
-Nuriyatul Lailiyah. (2016).  Presentasi diri netizen dalam kontruksi identitas dimedia sosial dan kehidupan nyata. Jurnal Ilmu Sosial. 15, 103-110.
-Suryanto dkk. 2012. Pengantar Psikologi Sosial. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (UAP).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar