PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INTERNET
Disusun Oleh :
Devita Septiyani Zahra 11518806
Shafira Permatasari 16518633
Yeni Yunita Sari 17518420
Kelas :
2PA21
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2020
Cara
untuk melakukan manajemen identitas dalam dunia maya
Identitas
dan Presentasi Diri
Identitas
didefinisikan sebagai imaji budaya, sosial, relasional, dan individual atas
konsep diri. Identitas memiliki implikasi keanggotaan grup, antar pribadi, dan
individual. Identitas merupakan kaleidoskop berwarna yang memiliki karakter
dinamis dan stabil. Identitas sosial termasuk identitas keanggotaan etnis atau
budaya tertentu, identias gender, identitas orientasi seksual, identitas kelas
sosial, identitas peran sosial, dan sebagainya. Identitas personal termasuk atribut
unik yang kita asosiasikan dengan diri kita dibandingkan dengan orang lain.
Baik identitas sosial maupun personal punya pengaruh dalam perilaku kita
sehari-hari.
Identitas internet, juga identitas online atau persona internet, adalah sosial yang dibuat pengguna
Internet dalam komunitas dan situs web online. Ini juga dapat dianggap sebagai presentasi diri yang dibangun
secara aktif. Meskipun beberapa orang memilih untuk menggunakan nama asli mereka
secara online, beberapa pengguna internet lebih suka menjadi anonim,
mengidentifikasi diri mereka dengan nama samaran, yang mengungkapkan
jumlah informasi pribadi yang dapat diidentifikasi Identitas online bahkan dapat ditentukan oleh
hubungan pengguna dengan grup sosial tertentu yang mereka adalah bagian dari
online. Beberapa bahkan dapat menipu
tentang identitas mereka.
Presentasi diri dikenal juga
dengan Manajemen Kesan/impression
manajement (Kenrick
et al., 2002:116) merupakan
bangunan yang merepresentasikan penampilan dan pemeliharaan identitas sosial
selama interaksi. Manajemen kesan merujuk pada gambaran yang ditampilkan
seseorang selama berinteraksi. Beberapa peneliti menggunakan konsep diri public
(public self) atau diri sosial (social
self) untuk membedakan identitas sosial dari
kehidupan pribadi. Sebagai individu, kita diatur oleh berbagai keistimewaan
yang banyak, seperti kebiasaan, perilaku yang sopan, keyakinan, sikap, nilai,
kemampuan, kebutuhan, ketertarikan, sejarah keluarga, dan sebagainya. Ketika
berinteraksi dengan pihak lain, kita tidak dapat menampilkan seluruh aspek
dalam kehidupan pribadi kita. Karenanya kita akan memilih karakter-kararkter
dari matriks perilaku dan psikologis kita yang kita yakini akan
mempresentasikan diri yang harus kita jalani dalam kondisi tersebut. Jika seseorang
membangun diri publiknya terdesak norma-norma interaksi, maka komunikasi
koheren tidak akan terjadi. Orang akan cenderung mengatakan apapun yang mereka
pikirkan, keluar dan masuk dalam percakapan sesuka hati, dan merespon (atau
tidak) secara acak atas komentar orang lain. Tanpa mengenali dan mengikuti
norma terkait etika komunikasi yang layak, konstruksi makna secara bersama
tidak dapat terjadi. (Littlejohn & Foss, 2009:506-507)
Perilaku dan atribut-atribut yang
diasosiasikan dirangkum dalam lima jenis atribusi, strategi karakteristik yang
harus didapatkan tiap atribusi, dan berbagai taktik untuk menerapkan strategi,
yaitu:
(1) seseorang yang ingin dianggap sebagai
orang yang mudah disukai atau ramah akan menggunakan strategi menjilat
(ingratiation) dan menggunakan taktik menampilkan emosi yang positif selama
berinteraksi, melakukan hal-hal yang disukai orang, member pujian, dan
menggunakan humor yang mencela diri sendiri.
(2) seseorang yang ingin dianggap kompeten
akan menggunakan strategi promosi diri (self promotion) dan taktik memberi tahu
orang lain tentang prestasinya, perilaku baiknya, atau pencapainnya dengan
menampilkan plakat atau penghargaan agar dilihat orang.
(3) seseorang yang ingin dianggap
berharga akan menggunakan strategi pemberian contoh (exemplification) dan
taktik mendemonstrasikan secara halus kemampuannya, kompetensinya,
integritasnya, atau nilai lain dibanding menyatakan secara langsung pada orang
lain.
(4) seseorang yang ingin dianggap tidak
tertolong akan menggunakan strategi permohonan (supplication) atau membuat
dirinya seolah kurang beruntung (self-handicapping). Strategi ini menggunakan
taktik tampil lemah atau sedih untuk menimbulkan perilaku mengasuh atau menjaga
dari orang lain. Selain itu juga menggunakan taktik memperlihatkan
ketidaktahuan atau pengalaman yang minim untuk menghindari tanggung jawab
tugas.
(5) seseorang yang ingin dianggap berkuasa
atau terkendali akan menggunakan strategi intimidasi dan taktik yang digunakan
adalah menampilkan kemarahan atau keinginan untuk menghukum atau mencelakai
pihak lain. (Littlejohn & Foss, 2009: 506-507)
Media sosial secara utama adalah
berinteraksi dengan orang lain dengan harapan mendapatkan balasan. Karaduman
memodifikasi kategori media sosial yang dibuat oleh Kaplan dan Haenlein sebagai
berikut: (Karaduman, 2013).
Media sosial yang hingga dewasa ini
paling banyak digunakan di Indonesia adalah Facebook, Instagram, dan Twitter.
Facebook menempati urutan pertama paling banyak digunakan kaum muda Indonesia
sebanyak 87,5%, kemudian Instagram 69,2%, dan Twitter 41,3%. Sedangkan
pengunggah foto paling banyak di kalangan muda lebih menggunakan media sosial
Instagram. Persentase yang diukur dari responden berusia 20 sampai dengan 25
tahun lebih dan responden yang berusia 30 sampai dengan 35 tahun, yang
mengakses Instagram ada sebanyak 55,8 %.
Media sosial menjadi sarana kontruksi
identitas oleh penggunanya. Melalui media sosial, orang akan menemukan
kemudahan untuk membuat identitas seperti yang ia harapkan. Temuan penelitian
menunjukkan bahwa informan hanya ingin menunjukkan sebagian sisi dari dirinya
yang ingin ditampilkan melalui media sosial. Sebagian sisi tersebut adalah sisi
yang dipandang positif oleh informan dan layak muncul ke media sosial mereka.
Informan tidak bernegosiasi dengan lingkungan untuk apa yang mereka anggap
sebagai layak muncul di media sosial. Sehingga yang mereka unggah ke media
sosial tidaklah selalu konsisten dengan konsensus di masyarakat kita. Meskipun
demikian, informan menilai bahwa identitas mereka di media sosial dan di dunia
nyata cenderung konsisten. Meskipun mereka cenderung mengambil bagian positif
dari identitas di dunia nyata untuk ditampilkan secara berulang dan membentuk
citra yang relatif konsisten di media sosial. Citra konsisten tersebutlah yang
menjadi identitas media sosial penggunanya. Pada konteks inilah media sosial
menjadi medium konstruksi identitas oleh penggunanya sendiri. Pengguna media
sosial bebas dan mandiri dalam mendefinisikan dirinya melalui status-status,
foto, maupun tautan informasi yang mereka unggah di media sosial mereka.
Burn (1993: 234), menjelaskan bahwa ada
tiga sumber universal yang membentuk konsep diri dan identitas pada setiap
individu sekaligus menjadi sumber permasalahan dalam kehidupan, mulai dari masa
kanak-kanak, remaja, dan dewasa:
a) Kesadaran tubuh dan citra tubuh, yang
pada mulanya dilengkapi melalui persepsi inderawi, adalah inti mendasar di mana
acuan diri dan identitas dibentuk.
b) Bahasa, timbul untuk membantu proses
diferensiasi yang berlangsung lambat dari diri orang-orang lainnya begitu pula
untuk memudahkan pemahaman atas banyak umpan balik.
c) Orang-orang lain yang dihormati di
mana kelompok teman sebaya tampaknya lebih penting jika dibandingkan dengan
orang tua, setelah dilaluinya masa kanak-kanak.
Kesimpulan :
Identitas
didefinisikan sebagai imaji budaya, sosial, relasional, dan individual atas
konsep diri. Identitas
merupakan kaleidoskop berwarna yang memiliki karakter dinamis dan stabil. Identitas sosial, Identitas personal maupun identitas
internet punya pengaruh dalam perilaku kita sehari-hari. Presentasi diri dikenal juga dengan Manajemen
Kesan/impression
manajement (Kenrick
et al., 2002:116). Beberapa
peneliti menggunakan konsep diri public (public
self) atau diri sosial (social self)
untuk membedakan identitas sosial dari kehidupan pribadi. Terdapat lima jenis atribusi untuk
berinteraksi kepada orang lain. Biasanya di media sosial orang menggunakan
identitas untuk berinteraksi dengan orang lain dengan
harapan mendapatkan balasan timbal
balik.
DAFTAR PUSTAKA :
-Marcocapelle. Wikipedia org wiki Online
identity.
-Repository.Umy.ac.id.
-Nuriyatul Lailiyah. (2016). Presentasi diri netizen dalam kontruksi
identitas dimedia sosial dan kehidupan nyata. Jurnal Ilmu Sosial. 15, 103-110.
-Suryanto dkk. 2012. Pengantar Psikologi Sosial. Surabaya:
Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (UAP).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar